Aku terbangun dari tidurku. Entah apa yang diributkan oleh suara-suara di luar kamarku. Terdengar pertengkaran antara papi dan mamiku.
Dear Diary…
Suara di luar kamarku mengganggu tidurku, padahal aku sedang asik bermimpi, bermain dengan periperi kecil, apa yang mereka ributkan sih?
###################
Aku terbangun lagi dari tidurku entah yang keberapa kali hingga kini aku sudah duduk di bangku kuliah. Aku mencoba menajamkan pendengaranku tanpa sedikitpun bergerak dari tempat tidurku. Tiba-tiba suara itu hilang begitu saja, ku hela nafasku dengan berat, ku coba untuk meneruskan tidurku aku bolak-balikkan badanku, gelisah. Aku tidak bisa meneruskan tidurku, kuputuskan untuk tidak melanjutkan tidur. Dalam kegelapan malam kucoba mencari saklar lampu, kuhidupkan, kuhabiskan sisa malamku dengan bercerita pada sahabat setiaku.
Dear Diary…
Suara yang sudah tidak asing itu mengganggu tidurku lagi, apa lagi yang mereka ributkan? Ingin aku keluar untuk mengetahui ada apa di luar sana. Tapi seperti biasa aku takut untuk mengetahuinya, aku hanya mengintip dari celah pintu kamarku
Tak lama kemudian aku mendengar mereka mulai berdebat panjang, lontaran-lontaran kalimat yang tidak mengenakan hati ikut terdengar.
Kamu bisa diam nggak, Plaak
Tamparan keras mendarat di pipi kanannya kemudian berlanjut di pipi sebelahnya hingga ia terhempas kelantai dengan keras. Wanita setengah baya itu bangkit dengan darah yang mengalir dari lubang hidungnya akibat membentur lantai. Pipi-nyapun berubah warna menjadi biru legam menandakan kerasnya tamparan dari si pria tersebut.
Ngapain tadi siang kamu melabrak Caroline?, aku mau selingkuh dengan wanita manapun bukan urusan kamu. Pria itu menjambak rambut wanita tersebut .
Mama nggak peduli papa mau seligkuah dengan siapapun, tapi mengapa papa tega mengambil dan memberikan kalung milik mama kepada pelacur itu. Papa tahukan arti kalung tersebut buat keluarga mama?! Terdengar isak tangis dari wanita tersebut.
Plakk!
Satu tamparan lagi mendarat di pipi wanita tersebut.
Jangan sebut-sebut Caroline sebagai pelacur kamu yang pelacur! kamu kira aku nggak tau kamu ada main dengan pelatih aerobikmu itu
Dengan tetap masih menjambak rambut istrinya,
Dan juga kalung itu nggak ada artinya bagiku aku nggak peduli itu warisan dari nenek moyangmu selama berabad-abad. Sekali lagi kamu mengusik Caroline aku bunuh kau.
##################
Dear Diary…
Sebagai seorang gadis berusia 20 tahun aku mulai menuju kedewasaanku, kedewasaan cara berfikir, kedewasaan dalam menjalani hidup, kedewassan dalam mempersiapkan kelak kalau aku menikah. Aku sangat mebutuhkan figur dan panutan hidup karena aku tau aku orang yang sangat labil.
Ingat kata-kataku itu!.
Pria itu meninggalkan istrinya begitu saja terduduk dilantai dengan wajah lebam dan isak tangis, pria itu tidak peduli dengan keadaan istrinya. Sang istri menangis tersendat-sendat sambil tangan kirinya memegang kalung berlian.
Dear Diary…..
Kini aku seakan-akan kehilanggan pegangan hidup, papa mama telah membuatku kecewa padahal aku sangat mengidolakan mereka. Menjadikan panutan dalam hidupku, tetapi kini keadaan telah berubah, aku mulai membenci keduanya…
###################
Pada waktu yang berbeda
Dimana kalung berlian yang dikenakan wanita stengah baya itu? salah satu dari kalian pasti yang mengambilnya! Akan aku bunuh kalian, siapa yang mengambilnya!?
Jujur Nyonya diantara kita berdua tidak ada yang mengambilnya dan lagi kita tidak melihat kalung yang dikenakan wanita itu. Kami sama sekali tidak menyentuh tubuh wanita tersebut, selesai mengerjakan tugas kami langsung pergi.
Tidak mungkin, kalian membohongiku dia pasti selalu mengenakan benda tersebut jangan menipuku kalian bisa aku bunuh!. Jujur Nyonya, kami tidak bohong. Kami langsung pergi kami hanya mengambil uang cash yang terdapat didalam laci meja dan dompet pria itu kami tidak mengambil perhiasan wanita itu. Kalau bukan kalian berarti ada seseorang yang mengambilnya sekaligus ia melihat apa yang kalian perbuat. Berarti kalian harus menghabisi orang tersebut harus!.
Tidak ada orang lain Nyonya selain mereka berdua dirumah itu. Kami memeriksa seluruh ruangan, atau mungkin janganjangan ini hanya karangganmu saja Nyonya untuk sengaja menjebak kami kepada Polisi, Sudah cukup kita melakukan tugas ini. Aku tidak mau menuruti kegilaanmu, apalah artinya barang itu dengan kekayaan yang kini anda miliki. Nyonya dapat membeli berpuluh-puluh kalung seperti itu, tugas kami telah selesai! sesuai dengan kesepakatan kita diawal, kita hanya membunuh kedua orang tersebut yang seakan-akan kita sekenariokan sebagai perampokan dan pembunuhan, kini cepat bayar kami. Tiba-tiba terdengar suara letusan tembakan dan teriakan kesakitan.
“Huh… itulah akibatnya apabila kalian membangkang kepadaku.
Peluru itu mengenai lengan kiri siAbu salah satu pembunuh bayaran tersebut.
Camkan kata-kataku.”
Berlian itu harus ada di tanganku secepatnya. Kalian tidak tau nilai kalung berlian itu. Cepat cari kalung tersebut sampai ketemu, Kalau tidak, kalianlah yang akan mati.
Wanita muda itu beranjak meniggalkan kedua pembunuh bayaran tersebut, ia melangkah menuju sebuah kamar dan duduk diatas sebuah kursi dengan meja belajar didepannya, kemudian dibukanya laci dalam meja tersebut dan tangan wanita tersebut terlihat mengambil sebuah buku harian, kemudian ia meletakkannya diatas meja dan membukanya. Wanita itu membolak-balikkan tiap-tiap halaman dalam buku diary tersebut, tiba-tiba buku diary tersebut mulai basah terkena tetesan air mata dari wanita tersebut. Mulut kecilnya ia gigit sambil sesekali terdengar isak tangis dari wanita muda tersebut, ia buka diary itu lembar demi lembar.
Dear Diary…
INI SEMU, ternyata semua hanya seperti bayangan yang muncul ketika datang cahaya. HUh bosan dengan tawa kosongku. Aku berbohong. Aku tidak bahagia. Aku kesepian. Kekayaan?! Dengan uang inilah aku dapat membeli semuanya, aku bisa membeli segalanya. Dengan uang ini pula kebahagiaanku telah hilang. Kenyataan ini sangatlah pahit. Semua ini karena orang tuaku yang terlalu mementingkan diri mereka,lebih mencintai harta dan kebutuhan individu!. Mereka tidak merasakan apa yang aku katakan, tapi apa aku harus menyalahkan mereka? Tetapi semua ini karena mereka. Aku benci mereka, mereka seharusnya menjadi panutan dalam hidupku. Ingin aku memberi pelajaran kepada kedua Orangtuaku.
###################
Pada waktu yang berbeda pula
Seorang pria terlihat sibuk membolak balikkan berkas diatas meja kerjanya,
Apa maunya si Eric Tarada baru beberapa minggu menjabat jadi direktur sudah berani mengusik saham perusahanku, harus aku bunuh direktur muda itu.
Kemudian pria itu menekan tombol-tombol pada handphonenya,
Hasan besok siang temui aku di cafe biasanya ada tugas lagi unukmu target seorang direktur muda namanya Eric Tarada, besok aku kasih foto-fotonya sampai ketemu besok siang,
Pria itu kemudian melangkah hendak keluar dari ruang kerjanya tetapi ia tiba-tiba dikejutkan oleh kedatanggan dua orang berpakaiaan preman dan memakai penutup kepala satunya bertubuh kurus tapi tinggi dan yang satunya lebih pendek beberapa senti dari temannya tetapi ia memiliki tubuh yang kekar.
Siapa kamu, mau apa kamu kemari jangan macam-macam siapa yang menyuhmu pasti Eric!,
Pria itu begitu ketakutan, sepucuk pistol jenis baretta tertodong kearah kepalanya. Tangan kekar pemegang pistol itu selalu mengikuti kemana pria tersebut bergerak.
Kalau kalian mau duit akan aku berikan berapa yang kalian minta. Lima juta, sepuluh juta, berapapun akan aku berikan.
Sambil pria yang ditodong itu bergerak menuju belakang meja kerjanya, karena di dalam laci meja tersebut terdapat sepucuk pistol. Pria itu berniat untuk mengambilnya. Kemudian sesegera ia mengacungkan pistol hendak menembakkan ke dua orang pria bertopeng itu. Tetapi malang, salah satu pria bertopeng itu terlebih dahulu menembakan pistolnya, tepat mengenai dada sebelah kiri pria stengahbaya tersebut. Seketika pria itu terjatuh dan darah mengalir dibawah tubuhnya.
Disaat yang hampir bersamaan, karena mendengar keributan di lantai atas ruang kerja suaminya, wanita setengah baya yang terlihat baru saja pulang dari sebuah pesta langsung menghampiri sumber kegaduhan tersebut. Begitu ia sampai didepan pintu ruang kerja suaminya, peluru dari pistol baretta tersebut telah menerjang tubuh suaminya, seketika itu ia menjerit keras, pria bertopeng lainnya yang bertubuh kurus meras panik dan langsung menembakkan pistolnya ke arah tubuh wanita tersebut hingga ia terjatuh dari lantai atas rumahnya. Seketika itu wanita tersebut tewas.
Sementara itu ketika kedua pembunuh itu tidak menghiraukan wanita yang tewas dibawah sana, mereka tidak tau kalau ada orang yang sedang menghampiri tubuh wanita itu, perlahan ia mendekati tubuh wanita setengah baya tersebut. Orang tersebut terlihat mengambil sesuatu dari tubuh wanita yang telah tewas itu.
##########
Saat ini
Di suatu pusat pertokoan
Bagaimana ini bang?, apa yang harus kita lakukan, aku sependapat dengan abang, jelas-jelas tidak ada orang lagi selain pasangan suami istri itu di rumah tersebut atau memang wanita itu ingin menjebak kita seperti yang abang khawatirkan.
################
Didalam sebuah kamar.
Wanita muda itu mengambil pena kemudian menulis diatas diary yang terkena tetesan air matanya
Dear Diary…
Aku membunuh keduanya. Semoga papa dan mama bahagia diatas sana. Berlian yang melingkar menghiasi leher mamaku, dimana? siapa yang mengambil?
Wanita itu tertunduk, air matanya menetes membasahi tiap-tiap lembar buku diarynya sesekali wajahnya memandang keatas melihat sebuah photo keluarga besarnya dipandanginya tiap-tiap wajah yang ada di photo tersebut sambil mengingat memori-memori yang pernah dilalui dengan orang-orang yang ada di bingkai foto tersebut, ia sesekali tertawa kecil ia ulangi tawa itu hingga ia tertawa terpingkal.
################
Flash back, di dalam sebuah kamar
Gadis besok kalau gadis udah mau nikah kalung berlian ini akan berpindah tangan menjadi milik gadis,
Kenapa Nek gadis harus memiliki kalung ini? Tanya gadis kepada neneknya
Karena memang begitu tradisinya, kalung ini akan dimiliki oleh anak perempuan tertua seperti mama kamu dan kemudian mbesok kalung ini harus kamu miliki dan apabila kelak kamu memiliki anak perempuan kalung ini juga harus kamu wariskan ke anakmu begitu seterusnya.
Begitu ya Nek. Iya deh gadis akan meneruskan tradisi keluarga kita.
Kemudian dengan ciuman mesra sang Nenek memeluk gadis dengan penuh kehangatan.
Gadis tersadar dari lamunannya ketika handphonenya berdering, tampak pada layar handphoneya private number, gadis ragu mengangkat telpon itu tetapi kemudian ia menjawab telphone itu. Terdengar suara lelaki yang berintonasi berat.
Mbak gadis saya Hasan. Ane teman baik papanya mbak, ane tau siapa orang yang menyuruh untuk membunuh papa dan mama mbak gadis,
Gadis langsung shock mendengar pernyataan Pak Hasan.
Batinnya dari mana ia bisa tau siapa orang yang membunuh papa n mama, apa mungkin ia yang mengambil kalung berlian keluragaku?,
Haloo mbak gadis mbak baik-baik saja kan?
Oh iya pak jawab gadis.
Mbak, sebelum pak Robert tewas beliau menyuruh saya untuk menghabisi rival bisnisnnya, tetapi sayang, bapak keduluan mati. Kalau mbak Gadis mengijinkan saya akan mengabisi nyawa orang itu, bagaimana mbak?
Sejenak gadis berfikir Pak Hasan berarti nggak tau siapa dalang sesunguhnya yang membunuh papa. Akhirnya ia mengiyakan pemintaaan Hasan
Baik pak, tolong bunuh nyawa rival bisnis papa dan pembunuh bayarannya.
Baik mbak, saya sudah tau nama dari rival bisnis pak robert tapi saya minim info siapa pembunuh yang di sewa sama siEric Tarada,
Tenang pak, saya ada rekaman pembunuhan papa, kebetulan papa memasang kamera pengawas diruang kerjanya. Nanti saya kirim fotonya kemudian kalau bapak mengenalnya segera hub saya,
Baik mbak.
Sementara itu dipusat pertokoan, dua orang tampak sedang berjalan dengan matanya mengawasi kesegala arah. Tak sengaja mata Roby terfokus pada wanita di sebrang jalan sana yang terlihat sedang menunggu taksi. Wanita yang ia rasa ia pernah berjumpa dengannya.
Bang, coba abang lihat wanita disebrang jalan sana bukankah ia yang terdapat pada foto keluarga di rumah pria yang kita bunuh tadi? Iya benar aku ingat.
Disebrang jalan sana seorang wanita tua hendak mencari taksi. Ia tolah-tolehkan kepalanya hingga pada satu moment mata wanita tua itu beradu pandang dengan si kurus (Roby) seketika itu pula wanita itu lari menjauh dari kedua orang itu,
Ayo kita kejar wanita itu aku yakin ia yang telah mengambil berlian tersebut. Kata si Abu, aku ingin secepatnya menyelesaikan tugas ini aku sudah muak.
###############
Akhirnya kita mendapatkan kalung berlian ini bang, ayo cepat kita tinggalkan tempat ini sebelum ada orang yang mengetahui kalau ada pembunuhan disini.
Kedua pembunuh itu tiba dirumah Gadis, Abu menghempaskan tubuhnya disofa ruang tengah rumah tersebut. Ia kemudian menyuruh anak buahnya untuk mencari wanita muda itu, karena beberapa kali di panggil tidak ada jawaban.
Kemana si Gadis bang kok nggak ada?,
Kamu cari dia ke semua ruangan.
Roby mencari kekamar-kamar, kedapur tapi tidak ada siapapun disana. Kemudian ia menuju kesebuah kamar, didapatinya gadis sedang teridur. Perlahan ia mendekati gadis. Matanya tertuju pada tubuh gadis yang cukup membangkitkan syahwat para lelaki. Terus ia mendekati gadis hingga kemudian matanya teralihkan ke atas meja yang disana tergeletak sepucuk pistol, buku diary yang terbuka halamanya. Di diary itu tertuliskan;
Dear Diary…
Tuhan, apa Tuhan akan memaafkanku yang telah membunuh orang tuanya sendiri? Tuhan semoga engkau mengerti alasan kenapa aku tega membunuh orangtuaku sendiri.
,dan sebuah HP yang menyala karena ada yang menghubungi. Segera Robby melangkah ke meja tersebut dan mematikan bunyi Hp tersebut karena menggangu ke asyikannya memandangi tubuh gadis. Tetapi karena tergesa-gesa Robby malah memencet tombol untuk melihat pesan baru yang masuk. Pada pesan tersebut tertuliskan
”Mbak gadis saya sudah terima foto dari mbak, saya mengenali pembunuh yang menghabisi nyawa papa n mama mbak. Mereka Abu n Roby secepatnya saya akan membunuhnya. -Hasan-”
Dasar iblis perempuan teriak Robby seketika.
Gadis terkaget dari tidurnya. Abu yang mendengar teriakan Robby segera lari menuju arah suara tersebut. Terlihat robby dengan raut penuh emosi sambil menodongkan pistol ke arah gadis. Abu berteriak kepada Roby.
Roby, apa yang kamu lakukan?,
Bang perempuan ini menyewa pembunuh bayaran lain untuk menghabisi kita,
dari mana kamu tau,
coba abang tanya ke perempuan itu dan liat isi sms nya,
Segera Abu melangkah melihat isi sms tersebut,
hey mengapa kau menghianti kami?
Raut muka Abu berubah karena ia tau akan berhadapan dengan pembunuh profesional yang levelnya jauh di atas nya. Akal sehat Abu tertutup ia gelap mata diraihnya pistol milik Robby kemudian ia todongkan ke wajah gadis sambil mendekatinya
Mengapa kau menjebak kami padahal kami telah mendapatkan apa yang kamu cari
Sambil Abu merogoh saku celananya dan mengeluarkan kalung berlian. Gadis tersentak kaget.
Darimana kalian mendapatkannya? siapa yang megambilnya?
Tanya Gadis pada Abu,
Wanita tua itu yang mengambilnya.
Seraya Abu menunjuk foto yang terpajang di atas meja.
Tidak mungkin, lantas dimana nenekku sekarang?
Mati. ia kami tusuk di lorong sepi di pusat perbelanjaan,
Tidakk
Gadis berteriak sekencangnya. Abu semakin mendekati Gadis. perlahan Gadis meraih pena yang tergeletak di atas meja lampunya kemudian ia menggengamnya. Saat Abu sudah dalam jangkauan tangan gadis, secepat kilat Gadis mengayunkan pisaunya mengenai tubuh Abu, pria berdarah arab itu kehilangan kendali atas tubuhnya, Gadis langsung merebut pistol yang ada pada genggaman Abu. Dengan mudah ia mengambilnya dan langsung ia tembakkan ketubuh Abu. Melihat keadaan seperti itu Robby segera menyambar pistol yang tergeletak di meja belajar. Robby menembakkan pistol tersebut kearah Gadis tepat mengenai kepalanya seketika gadis tersungkur diatas kasurnya dengan kalung berlian di depannya yang ikut terkena darah siGadis. Robby segera menghampiri bosnya namun Abu juga ikut tewas karena peluru itu mengenai dada dan kepalanya,
dengan lemah segera ia bangkit dan mengambil kalung tersebut.
Robby menjual kalung tersebut ke toko permata namun kalung itu dihargai murah karena tidak ada surat-surat kepemilikannya.
###############
Beberapa bulan kemudian
Kini kalung berlian itu telah berpindah tanggan. Kalung itu kini sedang dipakaikan di leher seorang anak perempuan oleh ibunya, saat anak tersebut akan melangsungkan pernikahannya.
-00000-