Category Archives: catatansaya

Cinta, kasih sayang, kesukaan, kekasih. Sabar, cinta, kasih sayang, baik, manis, I’m n’t going: Saya tak akan pergi. Penyebab, alasan, maksud; tujuan jatuh cinta, kasih sayang, adil, pantas, layak, benar, tepat. Dan hal tersebut sangat, sungguh, menghasilkan; menjadi biru, murung, sedih, tidak senonoh. Kamu, engkau, anda, kau, memperlihatkan piano, mata/tuts piano, mempunyai, menguraikan, menghasilkan, menjadi biru lagi, tertidur, berbaring. Dan perempuan, kamu, engkau, anda mengirim kasih sayang. Hujan kini di luar dan kamu tidak membawa baju hangat kesukaanmu. We smile and smile,
We smile and smile, Laughter echoes in your eyes

Sejuk, dan menjadi dingin lalu jatuh sakit. Tak acuh, menjadi kesepian, sepi, sunyi. Heh! engkau, saudara, kau, kamu., -Elephant is an animal: Gajah adalah seekor binatang.- Lebih baik lagi, aku, saya, amat sangat, benar-benar, cinta, kasih, sayang kekasih, relasi hidup. Dia, perempuan, wanita gila, hebat, menakjubkan. Dan saya, aku, saya; bodoh, dungu, membosankan, badut yang menyedihkan, untuk, menanti, menunggu, lalu melayani. : D : ( : D : ( ^_^

Ber-ijtima bersama sama
lalu seenaknya launching fatwa
hanya main kuasa karena di rasa dia sang kuasa
padahal hanya pelestari budaya lama yang yang sudah hampir tak berasa
karena sekarang sedang malam seharusnya engkau tau

Kini era dunia baru dan butuh penggembala baru
bagai malam dan siang yang datang silih berganti
Ia datang dicaci lalu di maki
kita tidak dapat melihat dengan jelas, karena bukan mata ini yang buta, tapi otak di dalam kepala yang terlena
terselimuti oleh kemenangan dan kemegahan dahulu kala

Musuh kita adalah kita, diri kita yang terlalu pandai sehingga tak mau buka diri dan intorspeksi
menuruti keinginan diri yang tak ada habis hingga ternyata kita ini sedang mati

Biarlah dia Sang pembuat cetak biru alam semesta dan kehidupan di dalamnya yang menunjuki calon calon manusia untuk menjadi penata era baru

Efek kupu kupu. Kapan itu, siapa yang tau. Akan menghadiri dari sisi mana kelakuan yang telah anda, saya lakukan

Oh itu dia; kapan dan perbuatan apa yang telah saya buat, tidak tau apa yang akan tiba menimpa saya, anda dan mereka bersama sama

Saya pelupa kadang kadang. Kemalasan masih menempel begitu lekat pada otak saya

Sedikit berbohong, berkonspirasi dengan hawa nafsu yang kini sedang terjadi. Mengawani kebiasaan buruk semoga cepat tergradasi

Efek kupu kupu kapan itu? tidak tau

Berlaku baik saja pada diri dan yang lain, itu lebih baik

Semoga semua mahluk hidup bahagia

Abraham Sebagai Bapak dari Banyak Bangsa

Dalam kitab suci Umat Yahudi, Nasrani, dan Muslim selalu menegaskan bahwa konsep hidup yang harus diikuti adalah konsep hidup yang dijalankan oleh Abraham atau Ibrahim. Seruan ini bertujuan agar masing-masing umat di atas memiliki sebuah konsep yang sama, tidak berpecah-pecah. Selama umat secara konsisten dan setia mengikutinya, maka mereka tidak akan tersesat dalam menapaki hidup di dunia.

Konsep ini sudah semakin sulit dicari dan dipelajari, walaupun kitab sucinya ada dan mudah dibaca. Sulit dicari karena konsep hidup yang dijalankan sudah berseberangan dengan apa yang diajarkan oleh Abraham, sudah menempatkan Abraham hanya sebagai cerita pengantar tidur yang dibumbui oleh kisah mistik dan menina-bobokan.

Umat Yahudi mengedepankan Musa sebagai tokoh yang harus diikuti sebagai utusan Nya. Umat Nasrani menjadikan Jesus sebagai penyelamat manusia sepanjang zaman. Umat Muslim mengkultuskan Muhammad lebih hebat dibanding apa yang diajarkannya. Akibatnya gerak spiritual mereka terpasung oleh pengkultusan nabi nya dan menafikkan nabi-nabi yang lainnya. Padahal nabi-nabi itu sesungguhnya mengajak umat yang meyakininya untuk mengikuti konsep Abraham, bukan yang lainnya.

Dengan demikian Abraham dijadikan oleh mereka sebagai tolok ukur benar-tidaknya idiologi umat. Yang tidak mengetahui Abraham, itulah umat yang tersesat. Yang tidak menerapkan konsep Abraham, itulah umat yang dibesarkan dalam egosentris golongan. Abraham tidak pernah mengajarkan manusia untuk terpaut dalam satu golongan rancangan manusia, tetapi agar manusia masuk ke dalam golongan Nya. Karena apabila ada manusia yang terpatri dalam idiologi golongan, itulah umat yang tidak akan mendapatkan pengampunan dan tidak akan mendapatkan berkah dari Nya.

(www.millahabraham.co.cc)

Hari Jumat & Hari Sabat

Setelah dalam 6 hari (masa) Tuhan mencipta, maka masuklah kepada hari yang ke 7. Pada hari yang ke tujuh ini Tuhan menginginkan agar manusia menjadikannya sebagai bahan ingatan, bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini yang mencipta adalah Tuhan, yang mengatur juga Tuhan. Semua makhluk tunduk patuh pada aturan Tuhan. Maka tidaklah pantas jika ada manusia merasa dirinya dapat mengambil hak Tuhan untuk mengatur manusia lain menurut kepentingannya sendiri, karena itu adalah esensi perbudakan, dan perbudakkan amat dibenci Nya.

Musa menjadikan hari ke 7 sebagai hari suci bagi umat manusia, dan hari itu wajib disakralkan. Ia mengikuti ketaatan yang dilaksanakan oleh Abraham, karena jalan hidup yang dilaksanakan oleh setiap nabi mengikuti pola yang diajarkan oleh Abaraham. Ini dapat dilihat dengan banyaknya ayat-ayat yang menceritakan tentang betapa Abraham dijadikan sebagai standard kebenaran bagi pola hidup yang lurus, sebagai Bapak dari banyak bangsa, bapaknya manusia. Maka apa yang dijalankan oleh Musa adalah kebiasaan-kebiasaan Abraham, termasuk mensucikan hari ke 7. Begitupula Yesus yang mengikuti konsep hidup nabi sebelumnya yakni Musa, karena Musa mengikuti ajaran Abraham. Kedatangan Yesus bukan untuk mentiadakan hukum Musa (Taurat), tetapi ia datang untuk menggenapi hukum-hukum Taurat yang sudah diporakporandakan oleh manusia sepeninggal Musa (Mat 5:17). Jika konsep yang diperjuangkan Yesus menyimpang dari Musa dan Abraham, maka tidak mungkin ada perintah dalam Quran untuk mengikuti Ibrahim, Ismail, Ishaq, Musa, dan Isa (Yesus) = QS: 2/136.

Kemudian bagaimana dengan Muhammad? Apakah ia juga mengikuti peribadatan hari yang ke tujuh? Bagaimana dengan hari suci umatnya yang kini dilaksanakan dengan shalat Jumat? Tidaklah Muhammad dikatakan sebagai orang yang taat (muslim) jika ia menafikkan ajaran-ajaran yang diusung nabi-nabi sebelumnya. Dan berulangkali pula dituliskan dalam Quran bahwa Muhammad tidak meninggalkan Yesus, Musa, dan Abraham. Tetapi ia menjadi pelurus bagi ajaran-ajaran yang sudah tercampur oleh rekayasa manusia.

Jika diteliti secara bahasa, kata Jum’at bukanlah nama hari. Karena kata Jum’at berasal dari bahasa arab yakni: Jumu’ah, Jami’ yang artinya berkumpul-bersama-kolektif. Jadi shalat jum’at tidak ada hubungannya dengan hari Jum’at. Karena nama hari setelah hari kamis itu dalam bahasa arab adalah “Sitta”, yaitu hari yang ke 6. Sedangkan hari yang ke 7 dalam bahasa arabnya disebut Sabt/Sabat, maka shalat Jum’at tidak berarti dilaksanakan pada hari yang ke enam, karena shalat jum’at adalah shalat (beraktifitas) yang berkumpul. Dan itu dilaksanaklan pada hari Sabt, bukan hari yang ke 6. Maka Perintah untuk melaksanakan shalat Jum’at pada QS: 62/9 bukan dilaksanakan pada hari ke 6, tetapi hari Sabt atau hari ke tujuh.

Di dalam Quran QS: 2/65 tertulis kutukan bagi orang-orang yang tidak menghormati hari Sabt; mereka akan dijadikan sebagai Kera yang hina. Sebuah sifat dari binatang rakus dan tidak mengenal aturan yang akan menurun kepada manusia yang melanggar hari Sabt, siapapun dia, apapun keyakinannya. Karena jika diteliti lebih cermat, sebenarnya ayat ini tidak dialamatkan hanya kepada orang-orang Yahudi, tetapi kepada seluruh manusia yang mengimani Tuhan dengan Firman Nya yang terkandung dalam kitab-kitab suci.

Mengapa hari ini shalat jum’at dilaksanakan pada hari yg ke 6? Karena cerita itu bersumber dari riwayat-riwayat. Sedangkan riwayat adalah cerita yang disampaikan secara berantai dari sekian banyak orang, dituliskan sekitar 270 tahun setelah Muhammad meninggal. Mengapa demikian? Karena dikala Muhammad masih hidup, ia melarang penulisannya agar wahyu-wahyu yang diterimanya tidak tercampur dengan pendapat manusia. Apalagi ternyata pelantun-pelantun kisah terpercaya itu adalah orang-orang penjajah Persia yang dahulu dikalahkan oleh kekuatan Islam. Mereka ingin membuat muslim meninggalkan sebuah kitab yang besar, dan sibuk dengan kitab riwayat-riwayat yang dituliskan sekian ratus tahun setelah kepergian Muhammad.
http://azwarti.wordpress.com/2008/08/06/menguak-konspirasi-persia-dalam-merusak-islam-dan-memecah-belah-muslimin-part-1/

Persis seperti Constantine pada tahun 325M yang telah mengecoh pengikut-pengikut Yesus dengan merancang kitab-kitab yang diklaim oleh mereka sebagai kitab suci yang benar diantara beratus kitab lainnya. Padahal dalam prosesi pemilihannya amat banyak kejanggalan dan rekayasa bangsa romawi beserta rahib yahudi yang tidak menginginkan pengikut-pengikut Yesus tetap pada imannya. Karena mengimani apa yang diajarkan Yesus akan cenderung mengakomodir umat untuk mengadakan perlawanan terhadap penguasa (Luk 22:37). Bagi penguasa Romawi, membiarkan ajaran Yesus tetap beredar merupakan sebuah harga yang mahal. Karena di dalam ajarannya, Yesus memperjuangkan sebuah kerajaan Tuhan secara nyata (De facto) di bumi, bukan khayalan.

Setelah Constantine menyingkirkan ajaran Yesus dan menetapkan ajaran yang sejalan dengan kepentingan penguasa Romawi, maka ia menetapkan bahwa hari Sabat yang dahulu disakralkan digeser menjadi hari Minggu (SUN-DAY). Sebuah hari yang bertepatan dengan perayaan hari kelahiran anak dewa matahari yang selama ini dipuja-puja oleh bangsa Romawi. Sehingga Constantine dapat mengarahkan idiologi pengikut-pengikut Yesus menjadi tidak bertabrakan dan saling bersinergi dengan idiologi paganisme yang sudah berlaku bagi bangsanya. Ibarat kata: “Sekali dayung 2 pulau terlampaui”. Padahal di dalam Alkitab ada 144 ayat yang menceritakan tentang kemuliaan hari Sabat dan tidak satu pun yang mengarahan untuk menghormati hari Minggu.

Hari ini umat Muslim dan Nasrani saling berselisih mengenai hari yang disakralkan, padahal baik di Quran maupun Alkitab justru mengajarkan untuk menjadikan hari ke tujuh sebagai saat yang harus disucikan oleh seluruh umat manusia yang masih mengimani Abraham sebagai tauladan yang baik. Sebuah standard kebenaran yang tidak akan terjadi perselisihan ketika mengimaninya.

Tuhan tidak menginginkan manusia terpecah menjadi Islam, Kristen, maupun Yahudi. Tapi itu adalah buah dari peradaban yang muncul seiring dengan bergulirnya dinamika kehidupan umat manusia. Maka mengapa harus saling bermusuhan? Bukankah pada jaman Yoshua, bani Israil (keturunan Ishak) merangkul bani kedar dan Nebayot yang dari keturunan Ismail? Bukankah Yesus juga melakukannya demikian? Dan bukankah Muhammad justru mengajak para ahli kitab untuk mengusung kalimat yang satu dan tidak saling berselisih? [QS 3:64]
Bukankah Muhammad mengasihi kaum Yahudi? Bahkan salah satu istrinya adalah keturunan Yahudi yang bernama Mariah. Maka Muhammad bukan mengedepankan suku/golongan.
Mengapa tidak dimulai dengan mencari persamaan antara apa yang diyakini oleh kaum Muslim, Nasrani, dan Yahudi? Mengapa tidak mulai dari mengupas dengan teliti apa-apa yang diajarkan oleh Abraham sebagai Bapak yang diakui oleh kaum Muslim, Yahudi, dan Nasrani?

Jika anda yang membaca tulisan ini menanggapi dengan kesombongan agama yang dipeluk, maka yakinlah bahwa sampai kapanpun anda akan terperangkap oleh pembelaan ritus dan simbol yang tidak berguna dalam memintal tali persaudaraan diantara manusia. Anda akan sibuk dalam membela tradisi yang turun temurun. Padahal Tuhan berkali-kali memerintahkan manusia untuk bersatu dalam ketaatan kepada Nya, bukan taat kepada agamanya.

Salam Abraham!

(www.millahabraham.co.cc)

Bunuh calon bintang jangan hanya memandang dan ikut senang, bilang ke calon bintang yang sedang bersorak dan berdendang di kotak kaca yang dinyawakan, calon bintang yang bermodal segumpal daging di tengah selangkangan.

Entah apa yang sedang terjadi saat ini ketika para pemimpi terbodohi seakanakan terkebiri, berlari sambil menari tanpa arti terus mati, tertumpuk kiriman pesan singkat untuk mendongkrak pupularitas dan identitas. Bersolek untuk pentas entah itu pantas hingga menetes air mata buaya mungkin juga nyata.

Hanya katakata yang bisa saya kata karena kita berada di segitiga konspirasi dunia yang terlihat ada dan tiada namun itu nyata, tata dunia baru kalau kau tau berjuta cara jitu untuk tujuan itu hingga kita tidak tau hingga terlena di segitiga yang itu.

Meracik kata kata tanpa makna, lalu seenaknya launching fatwa tanpa ada tanya,
hanya main kuasa karena di rasa dia sang kuasa,

Padahal hanya pelestari budaya lama yang yang sudah hampir tak berasa,
karena sekarang sedang malam seharusnya engkau tau.

Kini era dunia baru dan butuh penggembala baru, bagai malam dan siang yang datang silih berganti, datang dicaci lalu dimaki.

We can’t see clearly now karena bukan mata ini yang buta tapi mata di dalam kepala yang terlena, terselimuti oleh kemenangan dan kemegahan dahulu kala.

Musuh kita adalah kita, diri kita yang terlalu pandai sehingga tak mau buka diri dan intorspeksi, menuruti keinginan diri yang tak ada habis hingga ternyata kita ini sedang mati.

Biarlah dia Sang pembuat cetak biru alam semesta dan kehidupan di dalamnya yang menunjuki calon calon manusia untuk menjadi penata era baru.