Monthly Archives: September 2008

“Tidak peduli apakah kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.” Deng Xiaoping (1904-1997), pemimpin Partai Komunis China

Seorang anak perempuan sedang bermain di danau belakang rumah, tempat tinggal mungil di lereng pegunungan.

Sunyi disana.

Anak perempuan membawa kotak musik kesayangannya.

Kaki indahnya melangkah sesekali melompat telanjang kaki ia, membagi kehangantan dengan tanah.

Rambut panjangnya yang ikal terlena oleh humbusan angin gunung yang sedang menyapa, terurai dan terbuai.

Ada anak laki laki pergi memancing tapi tanpa membawa umpan entah lupa atau sengaja. Hanya kail, sebatang bambu, dan seutas senar.

Sampan tua mengapung di sisi danau, beberapa jamur kayu menempel disana.

Ada dua ikan koki dirumah anak laki laki, disebuah aquarium berbentuk bundar di sudut ruang keluarga disamping sofa, begitu hangat disana.

Tari tarian ilalang di lereng lembah, mengikuti gerak kaki perempuan. Anak laki laki duduk berjongkok di tepi danau dengan pancing tergenggam ditangannya.

Awan gelap datang dari arah timur laut, ingin bercerita kepada sang danau tentang perjalanannya.

Kemudian ia mulai bercerita dengan suka ria. anak laki laki berteduh di bawah pohon oak. Diatas sebuah dahan ada anak perempuan. Sesekali langit tertawa mengelegar.

Laki laki tersenyum sambil menggigil, anak perempuan lalu turun sambil membalas senyum. Lalu keduanya menyapa tanpa suara, berkata kata dengan jari jemari mereka dan raut muka.

Awan masih lama kelihatannya, membawa selusin cerita.

Sesekali keduanya tertawa kecil lalu tersenyum dan tanpa kata kata, lalu duduk bersama, bersandar di pohon tua.

Sampan di tepi danau terbuai cerita, lalu menyatu dengan waktu, terhanyut oleh cerita sang awan. Hampir selesai katanya, sedikit lagi kepada danau dan kemudian aku harus berjalan lagi mungkin dua atau tiga hari lagi aku akan singgah tuk bernyanyi, tuk bernyanyi kali ini.

Kotak musik itu berdenting, susunan gelas gelas kristal bercampur anggur mengalun merdu menggiris pilu kala sang pelangi yang baru tiba di situ.

Anak laki laki dan perempuan yang terduduk di bawah pohon oak sedang tertawa.

Malam yang mencoba pagi merangkak mencari selimut mentari di sudut ruang pengap di sebuah gang.

Sisa hujan semalam mengenang di jalan berlubang, anak kucing mejilati ikan asin yang sudah tawar tuk menganjal perut katanya.

Suara sunyi masih berbunyi di gang kecil saat itu.

Ada bocah yang masih memakai pakaian tidur terduduk di depan rumahnya, sepasang tangan mungilnya menggengam cangkir plastik berisikan susu hangat, mata kecilnya terlihat masih mengantuk.

Radio usang ikut menyulam pagi itu. You make my world so colourful

Wanita engkau pagi yang menyejukkan jiiwa
Wanita engkau siang yang menghangatkan hati
Wanita engkau sore yang begitu elok
Wanita engkau malam yang membuatku nyaman

Kasih dan sayang Nya seperti sungai
Kasih dan sayang Nya seperti sungai
Kasih dan sayang Nya seperti sungai dihatiku

Mengalir diwaktu susah
Mengalir diwaktu senang

Kasih dan sayang Nya seperti sungai di hatiku

Dan semua orang hidup bukan untuk memperhatikan dirinya sendiri, tetapi karena cinta mereka yang diberikan kepada mereka

-Leo Tolstoy-

Aku terlalu layu untuk bersenandung di dalam ruang kesedihanku, tak sanggup membayangkanmu di hari ketika engkau menuju ke awal yang baru.

Burung madu bertengger di atas nisan kayu, mencoba tuk memadu rindu hari hari yang lalu
Burung madu bertengger di atas nisan kayu, mencoba tuk memadu rindu hari hari yang lalu

Maafkan aku karena tak bisa menjagamu
Maafkan aku karena tak bisa menjagamu
Maafkan aku karena tak bisa menjagamu
Maafkan aku yang kini hanya bisa menangis menginggatmu

Aku sayang kamu aku cinta kamu
Aku sayang kamu aku cinta kamu
Untukmu selalu dan selamanya

SEpI, sePi. Sunyi angin kering menemani di ujung putik sari seekor burung madu yang sedang terdistorsi, hari sedang cerah, mentari membagi hangat sinarnya

Merasa baik, merasa baik, aku kuat aku kuat tapi hampa dan asa mulai tergradasi serasa mati suri di pagi hari
Merasa baik, merasa baik, aku kuat aku kuat tapi hampa dan asa mulai tergradasi serasa mati suri di pagi hari

Putik sari bunga lily sudah kering, kering, tidak apa apa tidak apa apa. Tolong bilang sesuatu hal tolong bilang
Putik sari bunga lily sudah kering, kering, tidak apa apa tidak apa apa. Tolong bilang sesuatu hal tolong bilang

Terdiam diam menangis, mengiris perih. Terdiam diam menangis, mengiris perih
Terdiam diam menangis, mengiris perih. Sunyi kata mencoba menjadi penawar

Sedih, mengharu di sangkar madu di kamar biru saya rindu
Sedih, mengharu di sangkar madu di kamar biru saya rindu