Aku berdiri di atas rumput yang terbasahi oleh tetes ramai hujan di sore itu. Kepalaku mendongkak ke langit yang ternyata biru dengan diimbuhi gumpalan awan putih yang tampak sehat, tidak mendung sore itu tapi hujan turun di waktu itu dengan merdu. Ibu jari kakiku bermain dengan rumput, mengelitikinya agar sedikit tertawa menghibur saya yang sedang dilupa oleh mereka dan dia yang disana. Sore, hujan dan bermain di rumput basah di hutan kecil kota tua itu. Siapa mengabaikan dan diabaikan siapa? entah. Aku hanya ditemani sore, hujan dan rumput. Kita bisa saling tertawa, karena saya mungkin sedikit (lagilagi) dilupa, karena (apakah) saya sedang tidak disana bersamasama mereka dan kamu. Oh iya untuk kamu, aku rindu kamu. Saya baru layu tapi saya tidak mau. Sore, hujan, dan rumput hijau di waktu itu begitu merdu.
Pages
Categories
Archives
-
Recent Posts
Tags
Abraham The Founding Father Add new tag adik badai bintang bintang kecil broken bumi burung kenari cerita cerpen cinta Deng Xiaoping desember home hujan imagine john lennon kehidupan kospirasi litle star mahatma gandhi malam mars morning musim gugur novus ordo seclorum pagi penciptaan pengen nyoba puisi rasa perih ruang maya rumput hijau sangkar burung saya scramble egg sebelum lupa senandung someday sore tata dunia tempat tinggal untukmu wanita