-SEMANGKUK RASA PERIH-
Fatamorgana terlihat menguap keras pada aspal hitam di ruas jalan raya Ibu kota. Melukiskan betapa teriknya siang itu. Seakan ikut mendidihkan volume kepala beberapa remaja yang sedang terlibat perkelahian di depan sebuah halte. Tiga remaja pria berpakaian putih abuabu dan empat orang yang sebaya dengan mereka. Seorang remaja tersungkur di keroyok dua remaja.
Rasain nih. Buk,buk. Buk!!
Tendangan beruntun mengenai perut dan kepala seorang remaja, dari arah belakang kedua remaja yang sedang asyik mengeroyok, seorang yang terlihat menggengam sebuah batu langsung mendekat dan menghantamkan batu berukuran sedang, tepat mengenai belakang kepala salah satu remaja yang sedang mengeroyok temannya.
DaGGG, mampus lho. Beraninya keroyokan, anjing lu semua!.
Ahhhh kepala gua keluar darah. Teriak salah satu pegeroyok.
Habisi orang itu.
Oke bos.
Sahut temanya yang ukuran badannya di atas normal bagi remaja seumuran mereka. Tanpa menunggu beberapa lama, remaja yang tadi menghantamkan batu dapat di taklukkan. Tubuh remaja itu didekap dengan eratnya, ia meronta-ronta. Kemudian remaja yang kepalanya dihantam batu, berjalan dengan gontai sambil tangannya merogoh saku kanan celananya mengeluarkan cutter ukuran besar.
Treeek,
Ujung lancip logam itu terlihat begitu buas. Ia kemudian mendekati remaja yang sedang didekap tersebut.
Ampun. Jangan bunuh gue, ampun.
BLeesss.
Secepat kilat ujung cutter itu melesak mengoyak perut remaja yang terlihat sangat ketakutan dan menahan sakit.
Mampus lho!
Dilanjutkan gerakan tangan bergeser kearah kiri beberapa senti. Seketika darah segar mengalir deras membasahi seragam putih abunya, menetes perlahan membasahi aspal. Remaja yang sedang terkapar hanya bisa menyaksikan dengan emosi tanpa bisa berbuat apa apa. Tubuhnya terlalu lemas untuk sekedar bangkit.
Dari jauh terdengar sirine mobil polisi mendekat dan meraung semakin keras membubarkan perkelahian itu. Kelima remaja tersebut langsung berlarian berusaha mengilangkan jejak dengan melompat masuk ke bus yang sedang melintas. Remaja yang terkapar tadi merangkak mendekati sahabatnya yang berlumuran darah. Ia rengkuh kepala sahabatnya, lalu ia meraung menangis. Detak nadi sahabatnya telah ikut mengalir bersama darah yang membasahi bumi. Tampak sesorang berusaha menarik paksa temannya yang menagisi sahabatnya yang bermandikan darah. Tidak,tidak sambil bergerak menjauh.
#####################
Satu tahun kemudian. Suasana pagi yang cerah di salah satu sudut kota Jogjakarta.
(music playing, artist ; seek six sick) ”Adalah rasa yang meresap bersama hemoglobin di tubuhku menyatu di ruh, tak bisa mati…
Took, took. Ton, Anton, took, took, took
Ketukan pintu membangunkan seorang pemuda pada sebuah kamar kontrakan yang ia tempati bersama seorang temannya. Anton terbangun dari kenanggan buruk yang menimpanya satu tahun lalu. Di depan matanya sendiri ia melihat adik kandungnya meregang nyawa tanpa ia bisa berbuat apapa. Teringat jelas orang yang menusuk adiknya.
Dengan masih telanjang dada Anton berjalan dan membuka pintu,
Ada apa lex?
Tuh ada telephone dari Sinta.
Kenapa lu, wajah lu sedih amat?
Gue mimpi dia lagi. Bajingan itu harus mati, harus!., Tony adalah darah bagi gue.
Tangan Anton mengepal dan menghantam dinding pintu dengan keras sambil berjalan menuju meja telephone. Alex memandang sahabatnya dengan tatapan serius. Ia juga tidak bisa melupakan peristiwa naas itu. Saat ia bersama Anton dan Tony di palak oleh empat orang yang berujung dengan perkelahian karena kami menolak dan melawan.
Iya Say, ada apa?
Kok lama sih?
Gue habis bangun tidur. Semalam gue begadang.
Ada apa say?
Ton pinjam mobilnya ya Gue mau jemput kakak gue di air port.
Sejak kapan lu punya kakak?
Ehh maksud gue kakaknya si Intan keponakan gue, boleh ya?
Ooo, ya udah tar gue anter ke tempat lu ama Alex. Jam berapa?
Jam sebelas lu udah nyampe tempat gue ya.
Oke say.
Bye, bye mmuach.
Mobil Daihatsu Taft warna hitam berdiri di pinggir sebuah jalan. Dari seberang jalan tampak pemuda menoleh kekanan dan kekiri seperti menanti sesuatu. Kaca samping mobil taft itu bergerak menurun, menyembul seorang wanita muda melambaikan tangan kearah pemuda di seberang jalan itu. Pemuda itu mendekati dan masuk kedalam mobil.
Udah nunggu lama?
Lumayan lah Ron.
Kemana kita?
Sementara ini lu tinggal di penginapan didaerah Malioboro, Gue udah sewain untuk satu minggu.
Uhh terima kasih adikku sayang.
Tangan pria itu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
Ngomong ngomong ni mobil siapa?
punya pacar gue.
Rony sambil mengamati sekeliling isi dalam mobil.
Pacar lu pendekar ya? Kok ada parang segala di belakang?
Enak aja lu ngomong. Sabtu kemaren kita camping.
Wah pacar lu baikan banget, kapankapan kenalin ma gue ya. Tajir nggak?.
Dasar matre lu. Kata wanita yang dududk di sbelahnya.
#####################
Diatas sebuah ranjang dua remaja yang tampak habis menikmati surganya.
Sin, gue cinta banget ma lu. Temuin gue ma ortu lu Sin, lu maukan berkeluarga ma gue ?
Gadis itu menempelkan kepalanya kedada pacarnya dengan manja.
Lu serius Ton?
Iya gue serius!
Gue cinta lu Ton. Libur semester depan lu gue kenalin ma ortu gue.
Diciumnya kening kekasihnya dengan lembut.
#####################
Dalam sebuah restaurant. Seorang pemuda duduk di sudut ruangan. Berselang beberapa menit datang wanita sambil melemparkan sebuah amplop.
Makasih adikku sayang.
Tu uang buat pegangan.Cari kerja sana?
Gue lusa mau balik keJakarta. Kangen ortu. Lu mau ikut? Kata rony
Nggak ah, tar malam gue mau keultah temen gua di villa dekat lereng G.Merapi trus lusa ada praktikum.
Lu mau kemana?
Kamar mandi. elu mau ikut. Mau gue kencingin. Kata Sinta
Elu yang gue kencingin, gue minta rokok dong?
Ambil aja didalam tas.
Rony segera membuka tas adiknya. Tiba tiba raut mukanya berubah. Keningnya berkerut. Ia melihat foto adiknya dengan seseorang yang sedang memeluknya dengan mesra. Ia mengamati sesaat foto itu. Dari kejauhan Sinta mulai mendekat.
Gue cabut dulu Ron, mau ke tempat pacar gue.
Sebentar Sin, gue perlu ngomong ke elu. Ini penting.
Ada apa?
Lu tau alasan sebenarnya kenapa gue ke Jogja? Raut wajah Rony berubah serius
Bokapkan yang nyuruh elu ke Jogja biar sekolah bener, ehh baru nyampe sini malah jadi BD cimeng.
Gue dikirim bokap ke Jogja karena gue ama temen gue berkelahi dan orang yang gue keroyok ada yang gue bunuh.
Sumpah lu! Nyokap nggak pernah cerita?
Itu dah berlalu. Sekarang salah satu orang yang gue keroyok ada di Jogja.
Dari mana lu tau?
Ada di dalam tas kamu!
Maksud kamu? Anton. Dia pacar gue Ron!.
Dia orang yang gue keroyok dan temannya mati garagara sok jadi pahlawan.
Dasar bajingan lu Ron!
Sinta segera beranjak dan meninggalkan kakaknya.
Lebih baik lu segera putusin dia, daripada tar lu nyesel. Teriak Rony.
Seluruh pengunjung restaurant menoleh ke arah Rony.
#################################
Sore hari, cuaca sedikit mendung. Anton mengendarai mobilnya sembari dari ujung bibirnya mengepulkan asap. Lampu traffic light menghentikan sejenak mobil itu. Sesaat ia melamun. Mengalir mengikuti lirik dari musik yang ia dengar.
(Music playing. Artist and title; melancholic bitch, kita adalah batu)
“Setiap awal musim ku persiapkan segelas rasa sakit yang kehilangan
setiap awal musim ku persiapkan semangkuk rasa perih kebencian
Kebencian
Kebencian
Kebencian
Kita kan terjaga selamanya
Kita kan terjaga selamanya
kan terjaga selamanya
selamanya”
Phuhh. Asap itu kembali mengepul diikuti kepalanya yang menoleh kearah kanan. Lamunan Anton langsung menghilang mengikuti kepulan asap rokoknya. Anton sangat mengenali tatto itu. Memorinya membawa ke keperistiwa satu tahun yang lalu. Tatto tengkorak yang terdapat pada pergelanggan tangan kiri pemuda yang sedang mengendarai motor bersama seseorang. Bunyi klakson membuyarkan ingatan Anton. Perlahan ia mengikuti kemana motor itu melaju.
Tiba tiba hujan turun dengan derasnya. Jalanan mulai lenggang. Motor itu segera menepi di bawah pohon di pinggir jalan. Pengendara itu tampak kesusahan membuka jok motornya. Didalam mobil. Anton tampak begitu emosi, Jiwanya terbakar.
Thanks God you find me with my big enemy.
Segera ia memutar otak mencari cara untuk menghabisi orang yang membunuh adiknya. Matanya tertuju pada parang yang terdapat di kursi belakang mobil.
Perlahan ia membuka pintu mobilnya. Ia selipkan parang itu di penggungnya. Hujan semakin deras mengguyur bumi seakan ingin memadamkan api kebencian dalam kepala Anton. Dua pemuda pengendra motor itu segera memakai jas hujannya. Sebelum sempat melanjutkan perjalanan tiba tiba dari arah belakang parang itu menyabet dengan keras tepat mengenai leher belakang orang yang membonceng. Seketika orang tersebut langsung terhempas ke aspal tak bergerak. Darahnya mengalir deras.
Rony yang kaget akan peristiwa barusan langsung lari tidak sempat menghidupkan kembali mesin motornya.
Anton mengejarnya sambil meneriakinya
Elu harus mati. Elu harus mati. Harus!!.
Anton langsung meloncat dan menikamkan parangnya di punggung Rony. Rony jatuh terkapar tak berdaya. Tubuhnya melemas. Tanpa pikir panjang parang itu menyamber mengenai leher hingga memisahkan kedua bagian tubuh itu. Hujan terus membasahi tempat itu.
Anton segera meninggalkan tempat itu. Ia buang kausnya yang terkena bercak darah. Lalu ia mengenakan jaket. Mobil itu melaju santai menikmati rintik hujan yang mulai mereda.
#################################
Tin, tin, Bunyi klakson mobil Anton di depan kost kekasihnya.
Ayo kita berangkat kata Anton. Sinta masuk kedalam mobil diiringi kecupan mesra di kening kekasihnya.
Bawaan lu banyak amat. Lu mau camping apa mau party kok bawa peralatan dapur segala? Kata Anton.
Party lah. Tadi Rini suruh mbawain coz dia suruh mbawain.
Pesta ultah berlangsung meriah. Anton duduk di sofa sesekali ia tersenyum. Sinta mendekatinya. Sinta langsung duduk di pangkuan kekasihnya.
Lu kenapa Ton? Lu senyum senyum sendiri, lu nggak gila kan?
Hehehehe. Gue puas banget. Puas.
Tu kan gila, puas kenapa? Lu giting berat ya?
Gue puas. Sambil mulut Anton berbisik pelan. Gue tadi sore habis ngebunuh orang yang setahun lalu nikam adik gue ampe tewas.
Kemudian Anton membopong Sinta sambil tertawa lepas mencium kekasihnya dengan mesra. Perasaan Sinta langsung bercampur baur seketika wajahnya berubah.
Ada apa Say? Kok wajahnya kaya gitu?
Say elu serius, elu beneran habis ngebunuh?
Iya gue serius. Adik gue adalah darah bagi gue. Tadi sore Tuhan mempertemukan gue dengan bajingan itu. Gue ambil parang dikursi belakang terus gue dekatin pengendara motor itu nggak pake lama gue babat bajinganbajingan itu.
Lu kenal orang yang ngebunuh adik lu?
Wah gue nggak sempat kenalan tuh. Otak gue pikirannya cuma BUNUH, dan bunuh.
Gue tau kalau dia yang ngebunuh karena gue inget banget tatto tengkorak di pergelangan lengan kirinya trus gue pastiin liat wajahnya juga.
Dalam benak Sinta langsung terlintas kata kata kakaknya siang tadi;
”Dia orang yang gue keroyok dan temannya mati garagara sok jadi pahlawan.
Lebih baik lu segera putusin dia, daripada tar lu nyesel.
Gue lusa mau balik keJakarta. Kangen ortu. Lu mau ikut?”
Gue shock, kaget dengan apa yang barusan elu omongin. Kenapa lu lakuin ni semua? Elu nggak Kasihan sama tu orang?. Antara yakin dan nggak. Pikiran Sinta berkecamuk apakah itu kakaknya atau kebetulan ada orang yang juga memiliki tatto yang serupa di pergelanggan tangan kirinya.
Kok kasihan?! Dia udah bunuh adik gue dan gue patut untuk balas dendam. Rasa perih ini nggak akan terobati. Kok elu malah belain dia?
Emang siapa dia? Kakak elu? Atau pacar gelap lu? Anton yang sudah mabuk, menanggapi dengan penuh emosi. Sinta yang perasaannya sedang kalut juga menanggapi dengan emosi.
Kalau seumpama dia Kakak gue kenapa? Lu tetep bunuh dia dan terus lu bunuh gue juga?
Anton terdiam sesaat.
Maafin gue say. Gue mabuk berat trus ngomongnya nyolot nggak karuan. Untung ajaya dia bukan kakak elu. Anton memeluk sinta dengan manja.
Emang kalau seumpama dia bener kakak gue lu juga bakal bunuh gue ya?
Nggak tau ah. Udah udah nggak usah di bahas.
#################################
Pagi hari pukul 05.00 WIB. Di dalam mobil.
Udahlah say kok masih ngambek sih. Sudah sewajarnya kalau aku ngebunuh bajingan itu. Coba kalu kamu jadi aku pasti lu bakalan ngebunuh juga kan?
Sinta tak bisa memendam rasa sedihnya. Kakaknya tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Semalam ia mendapat telephone dari kepolisian menanyakan tentang orang yang bernama Rony dan ada hubungan apa dengan korban.
Iya gue juga bakal ngebunuh dia., (Dalam batin Sinta; dan gue tetep akan mencintai elu meskipun elu ngebunuh kakak gue). Kata Sinta.
Anton menepikan mobilnya dan mencium bibir kekasihnya dengan hangat. Suasana pagi itu masih cukup sepi dan cukup dingin hingga membuat Anton menghentikan ciumannya karena ingin buang air kecil.
Melangkah ia ke dalam hutan cemara mencari tempat yang nyaman untuk kencing. Dari arah belakang diamdiam Sinta mengikuti langkah Anton. Saat Anton membalik tubuhnya ia terkaget.
Mau kencing juga? Tanya Anton
Sinta tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ia langsung mencium bibir kekasihnya bengan penuh hasrat. Cukup lama dua insan itu saling mencumbu seperti sepasang merpati di musim kawin, hingga menghangatkan tanah yang mereka injak. Namun percumbuan sepasang merpati itu berubah menjadi percumbuan sepasang labalaba. Dari balik punggungnya ia mengeluarkan sebilah pisau ia tancapkan di uluh hati pasanggannya. Pejantan itu tersentak saat kemudian pisau itu melesak lebih dalam menghujam masuk ke paruparu memperlambat aliran darah dan nafasnya.
Sang betina membisikkan di telingga kiri kekasihnya.
Sekarang giliranku untuk membalas dendam kakak gue yang kemaren sore elu penggal kepalanya. Maafkan aku kekasihku.
Anton sudah tak mampu bicara. Pita suaranya seakan terputus. Pisau itu terus mengoyak organ tubuhnya dengan perlahan. Anton mendekatkan bibirnya berusaha meneruskan percumbuan terakhirnya. Sang betina menyambut dengan hangat keinginan terakhir kekasihnya dan juga menjadi percumbuan terakhir bagi sang betina. Dengan sekuat tenaga Anton mendorong tubuh Sinta beberapa langkah kebelakang hingga punggungnya tertancap dahan Pohon cemara menembus hingga ke dadanya. Darah segar perlahan keluar dari mulut siBetina. Kedua insan itu saling pemeluk dengan bibir tetap berpagutan.
Dari jauh mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang saling mencumbu. Begitu mesra dan hangat.
-SELESAI-
Diluar hidup siangmu, diluar sisi tubuhmu, diluar yang kau sentuh, diluar hanya sepi membisu
Diluar kisah sedihmu, diluar sesak nafasmu, diluar yang kau buru, diluar igau mimpi burukmu
Bernafas di celah waktu dan ruang yang mencekikmu
Bernafas di celah waktu dan ruang yang mencekikmu
Karena kita adalah batu
kita adalah batu
kita adalah batu
adalah batu
Setiap awal musim ku persiapkan segelas rasa sakit yang kehilangan
Setiap awal musim ku persiapkan semangkuk rasa perih kebencian
Kebencian
Kebencian
Kebencian
Kita kan terjaga selamanya
Kita kan terjaga selamanya
kan terjaga selamanya
selamanya
Melancholic Bitch, “Kita Adalah Batu”